Memimpin dengan Sinkronisasi Hati dan Akal Budi

Compassionate leadership begins with the intention to see as others see and feel as others feel.” – Margie Warrel

Banyak sumber yang menyajikan berbagai definisi kepemimpinan. Secara umum kepemimpinan berarti seni untuk mengatur orang lain untuk mencapai tujuan. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan bersama; tujuan pemimpin dan yang dipimpin.

Jon Maner dalam bukunya yang berjudul Good Bosses Switch Between Two Leadership Styles menyebutkan bahwa seni atau gaya kepemimpinan hendaknya disesuaikan berdasarkan situasi, karena situasi yang berbeda memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda pula. Gaya kepemimpinan berdasarkan situasi itu dibagi menjadi dua, yaitu dominasi dan prestise.

Gaya kepemimpinan dominasi cenderung memengaruhi orang lain dengan bersikap asertif dan memanfaatkan otoritas formal yang dimiliki. Sedangkan prestise ialah gaya kepemimpinan yang cenderung menampilkan tanda-tanda kearifan dan contoh atau tauladan kepada orang atau kelompok yang dipimpin. Kedua gaya kepemimpinan ini memiliki kelebihannya masing-masing bergantung pada situasinya.

Namun dalam pelaksanaannya, gaya kepemimpinan apapun yang dianut, menurut salah satu Dewan Penasihat Forbes School of Business & Technology, Margie Warrel  menyebutkan akan jauh lebih efektif apabila mampu menyinkronisasi antara hati (heart) dan akal budi/kepala (head) dalam menjalankan kepemimpinan. Sinkronisasi ini adalah kepemimpinan yang berlandaskan welas asih.

Welas asih dalam kepemimpinan itu kemudian dijelaskan lebih dalam menjadi tiga bagian utama, yaitu:

  1. Empati: Merasakan apa yang orang lain rasakan (sekalipun perasaan yang tidak enak);
  2. Kognitif: Berusaha memahami apa yang dipikirkan orang lain (membutuhkan perhatian penuh);
  3. Motivasi: Mencoba untuk membantu mencarikan solusi masalah orang lain dan mengurangi penderitaan mereka.

Dengan mengembangkan empati akan membuat seorang pemimpin mampu melihat apa yang dilihat orang lain dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Di dunia kerja, kepemimpinan yang welas asih akan membawa pemimpin perusahaan dapat membantu karyawan mendengarkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan (mengurangi keadaan ‘mindlessness’ yang merasuki begitu banyak organisasi) dan mengajarkan cara untuk melibatkan tubuh dalam mempersingkat respons fisiologis terhadap ketakutan dan kemarahan.

Dengan begitu mereka dapat mengelola dengan lebih baik emosi yang sering membajak perilaku rasional. Faktanya, penelitian telah membuktikan bahwa praktik kepemimpinan yang berlandaskan welas asih memperluas kapasitas individu untuk tetap fokus, membangun kolaborasi, melakukan di bawah tekanan dan secara positif mempengaruhi perilaku dan kesejahteraan orang banyak.

 

Yadu Nandana
Junior Consultant HumanDynamics

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *