Webinar HumanDynamics – Preparing for The New Normal

Krisis akibat pandemi Covid-19 masih berlangsung. Banyak sektor yang terkena dampaknya, termasuk sektor ekonomi.

Beberapa ahli ekonomi telah menyerukan perlunya perubahan pola kerja dan bisnis dalam menghadapi krisis ini, terutama pasca krisis. Namun banyak yang masih bingung tentang bagaimana menyusun strategi dan upaya dalam mempersiapkan diri menyambut masa tersebut, yakni the new normal.

Apakah Anda salah satunya?

Temukan solusinya di Webinar PREPARING FOR THE NEW NORMAL – The tasks for every business in planning to meet challenges in post-pandemic Covid-19.

GRATIS!

Daftar di sini: https://bit.ly/webinar-hd

Compassion dan Pandemic

Menyebarnya Covid-19 yang belum terhenti menyebabkan dampak negatif yang teramat serius dalam kehidupan fisik, psikis, sosial, ekonomi dan ketenagakerjaan di antara kita.

Dampaknya yang mendalam masih akan berlangsung cukup lama di Indonesia dan di banyak negeri lain. Krisis ini akan menjadi lebih berat dahulu sebelum perlahan membaik dan kemudian kita memasuki situasi normal yang baru.

Berapa lama proses ini berlangsung sangat tergantung dari kemampuan dan kebijakan para pemimpin, ilmuwan, serta para pelaksana kebijakannya, dan oleh perilaku dan budaya masyarakat itu sendiri.

Secara umum kita menyaksikan adanya kecenderungan bahwa di mana masyarakat mampu belajar dari pengalaman, mempunyai literasi tinggi, mempunyai kesiagaan organisasi dan teknologi, serta kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan, mereka berhasil memperpendek  waktu krisis dan mengurangi dampaknya dengan lebih cepat, dengan korban yang lebih sedikit.

Di masyarakat seperti itu kita juga melihat adanya trust terhadap sistem yang ada dan kepada para pemimpinan masyarakat serta adanya saling percaya di antara anggota masyarakat itu sendiri.

Pandemic bila ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, seperti lingkungan hidup, perilaku, obsesi, pengembangan pendidikan dan ekonomi manusia, bahkan agama, seolah-olah merupakan sebuah peringatan agar kita mereset tata-kelola kehidupan kita.

Para ahli meramalkan tata-kelola dalam masa situasi normal yang baru nanti, tidak mungkin atau tidak boleh sama dengan masa sebelum pandemi. Perilaku dan tata-kelola akan dituntut untuk lebih mengedepankan kesetaraan, mengurangi kesenjangan, memperbaiki sarana kesehatan, menjaga lingkungan hidup serta menangani climate change dengan lebih bersungguh-sungguh disamping meningkatkan kinerja ekonomi.

Pandemic merupakan sebuah kekuatan dan kejadian disruptive.

Pakar Theory of Disruptive Innovation almarhum Clay Christensen menemukan mengapa kita tidak siap mengantisipasi dan menghadapi disrupsi. Mengapa kita sebagai pribadi atau sebuah perusahaan besar yang telah mapan dapat ambruk karena diterpa kejadian disruptif atau berperilaku tidak antisipatif.

Christensen disamping seorang guru besar dan pelaku bisnis terkemuka dari Harvard Business School dia juga  seorang penganut agama Latter Day Saints atau Mormon yang soleh; seorang spiritualis.

Di dalam kehidupan pribadi diungkapkan olehnya kita yang telah sukses dalam studi, kemudian maju di awal karir, usaha, dan berkeluarga bisa kemudian hancur berantakan, ada yang dipenjara, istri lari dengan orang lain dan anak-anak tidak lagi berlaku hormat.

Dia menemukan bahwa setelah seseorang menentukan apa yang ingin didapatkannya – seperti kesinambungan dalam berusaha atau menciptakan keluarga bahagia – kemudian dia mengambil langkah-langkah terencana yang menurutnya baik.

Tetapi sering kemudian terbukti langkah-langkah tersebut salah. Penyebabnya adalah karena kita selalu memilih rencana dan tindakan yang mendatangkan hasil nyata dalam waktu singkat, tidak berpedoman kepada upaya untuk mencapai kesinambungan,  tidak konsisten terhadap visi atau cita-cita luhur kita. Sama dengan apa yang dilakukan oleh para pemimpin perusahaan.

Clay Christensen menekankan pentingnya humility, kerendahan hati saat menjalani  kehidupan dan saat kita bekerja, memimpin. Manusia atau pemimpin yang rendah hati selalu tahu siapa dirinya, merasa senang dan puas saat menyadari siapa dirinya sebenarnya, dia tahu tentang kemampuan dirinya, dan selalu ingin bertanya dan belajar.

Rendah hati membuat  seseorang berperilaku baik terhadap dirinya sendiri dan orang lain; ia selalu menghormati orang lain dan tentu tidak berbohong. Dia mengutamakan kelanggengan dan kemajuan diri maupun usahanya, yang penting bukan berapa kekayaan yang terhimpun sesaat akan tetapi berapa orang yang telah ia bantu untuk menjadi orang yang lebih baik dan sukses  sehingga orang itu dapat mengantisapasi dan mengatasi kejadian atau kekuatan disruptive. Kekayaan materiil yang berkelanjutan akan menyusul kemudian.

Lalu dimana letak dan peran Compassion?  Compassion yang terbangunkan dalam diri kitalah yang membuat kita mampu menjadi humble, rendah hati, tulus; kita bahagia bila membuat orang lain maju dan sukses dalam kehidupannya.

Welas-asih atau Compassion hadir dan menjadi pencetus  Core-Values dan dasar semua  tindakan kita.  HumanDynamics menemukan bahwa Compassion  adalah kesadaran welas-asih dalam bentuk empati dan simpati yang diwujudkan dalam pelayanan tulus secara berkesinambungan untuk mendorong setiap individu bertumbuh-kembang menjadi lebih baik.

30 April 2020

Hendranto Adhi
Executive Consultant HumanDynamics

Fixed vs Growth

Mindset: Fixed vs Growth

“A growth mindset is when people understand that their abilities can be developed.”- Carol Dweck

Pikiran merupakan bagian dari diri kita yang berfungsi sebagai pengendali indra-indra lainnya. Dari pikiranlah “intruksi” untuk mengucapkan atau melakukan sesuatu hal berasal. Meski, kesadaran yang berada di dalam hati senantiasa selalu sigap meyaring apa yang seharusnya diucap atau tidak, dilakukan atau tidak.

Ketika pikiran tidak terkendali, maka akan liar seperti gajah mengamuk yang tiada berarah. Itulah mengapa sangat penting untuk berlatih mengendalikan pikiran agar ia dapat menjadi sahabat yang senantiasa mengarahkan tata-laku ke arah yang baik.

Latihan yang dapat dilakukan seperti misalnya moment of silence, mengantarkan diri kita dalam keadaan hening. Mengistirahatkan pikiran pada keheningan untuk selanjutnya siap bangkit guna menciptakan fokus.

Dalam bukunya yang berjudul “Mindset – The New Psychology of Success”, Carol Dweck menuliskan bahwa ada dua tipe pola pikir atau mindset, yakni pola pikir tetap (fixed mindset) dan pola pikir bertumbuh (growth mindset).

Orang dengan fixed mindset cenderung selalu ingin tampil dan terlihat cerdas karena mereka berkeyakinan bahwa mereka dilahirkan dengan tingkat kecerdasan tetap yang tidak dapat dimodifikasi. Orang-orang ini takut terlihat bodoh di mata orang lain karena mereka tidak yakin bahwa mereka dapat meningkatkan diri mereka sendiri begitu orang lain memandang mereka sebagai orang yang tidak cerdas.

Namun, orang dengan growth mindset berkeyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan mereka dapat dikembangkan dengan upaya, pembelajaran, dan ketekunan. Kemampuan dasar mereka hanyalah titik awal untuk potensi mereka. Mereka menyadari bahwa semua orang tidak sama, tetapi mereka berpegang pada gagasan bahwa setiap orang bisa menjadi lebih pintar jika mereka berusaha.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembagkan growth mindset, diantaranya:

  1. Akui dan terima ketidaksempurnaan.
  2. Tumbuh-kembangkan rasa mempunyai tujuan.
  3. Lihat tantangan sebagai peluang.
  4. Cobalah berbagai taktik belajar.
  5. Hargai proses sama pentingnya dengan hasil akhir.
  6. Ganti kata “gagal” dengan kata “belajar”.
  7. Belajarlah dari kesalahan orang lain.
  8. Kembangkan GRIT, mentalitas tidak mudah menyerah.

Pada akhirnya kembali ke diri kita masing-masing untuk berefleksi. Jika kita merasakan hambatan dalam hidup, mungkin saja kita telah lama terjebak dalam fixed mindset yang membuat kita sulit atau bahkan tidak berkembang. Oleh karena itu, semoga delapan upaya yang disajikan dapat membantu untuk mengembangkan growth mindset sehingga dapat senantiasa bertumbuh-kembang dengan lebih baik.

 

Yadu Nandana
Junior Consultant HumanDynamics

Memimpin dengan Sinkronisasi Hati dan Akal Budi

Compassionate leadership begins with the intention to see as others see and feel as others feel.” – Margie Warrel

Banyak sumber yang menyajikan berbagai definisi kepemimpinan. Secara umum kepemimpinan berarti seni untuk mengatur orang lain untuk mencapai tujuan. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan bersama; tujuan pemimpin dan yang dipimpin.

Jon Maner dalam bukunya yang berjudul Good Bosses Switch Between Two Leadership Styles menyebutkan bahwa seni atau gaya kepemimpinan hendaknya disesuaikan berdasarkan situasi, karena situasi yang berbeda memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda pula. Gaya kepemimpinan berdasarkan situasi itu dibagi menjadi dua, yaitu dominasi dan prestise.

Gaya kepemimpinan dominasi cenderung memengaruhi orang lain dengan bersikap asertif dan memanfaatkan otoritas formal yang dimiliki. Sedangkan prestise ialah gaya kepemimpinan yang cenderung menampilkan tanda-tanda kearifan dan contoh atau tauladan kepada orang atau kelompok yang dipimpin. Kedua gaya kepemimpinan ini memiliki kelebihannya masing-masing bergantung pada situasinya.

Namun dalam pelaksanaannya, gaya kepemimpinan apapun yang dianut, menurut salah satu Dewan Penasihat Forbes School of Business & Technology, Margie Warrel  menyebutkan akan jauh lebih efektif apabila mampu menyinkronisasi antara hati (heart) dan akal budi/kepala (head) dalam menjalankan kepemimpinan. Sinkronisasi ini adalah kepemimpinan yang berlandaskan welas asih.

Welas asih dalam kepemimpinan itu kemudian dijelaskan lebih dalam menjadi tiga bagian utama, yaitu:

  1. Empati: Merasakan apa yang orang lain rasakan (sekalipun perasaan yang tidak enak);
  2. Kognitif: Berusaha memahami apa yang dipikirkan orang lain (membutuhkan perhatian penuh);
  3. Motivasi: Mencoba untuk membantu mencarikan solusi masalah orang lain dan mengurangi penderitaan mereka.

Dengan mengembangkan empati akan membuat seorang pemimpin mampu melihat apa yang dilihat orang lain dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Di dunia kerja, kepemimpinan yang welas asih akan membawa pemimpin perusahaan dapat membantu karyawan mendengarkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan (mengurangi keadaan ‘mindlessness’ yang merasuki begitu banyak organisasi) dan mengajarkan cara untuk melibatkan tubuh dalam mempersingkat respons fisiologis terhadap ketakutan dan kemarahan.

Dengan begitu mereka dapat mengelola dengan lebih baik emosi yang sering membajak perilaku rasional. Faktanya, penelitian telah membuktikan bahwa praktik kepemimpinan yang berlandaskan welas asih memperluas kapasitas individu untuk tetap fokus, membangun kolaborasi, melakukan di bawah tekanan dan secara positif mempengaruhi perilaku dan kesejahteraan orang banyak.

 

Yadu Nandana
Junior Consultant HumanDynamics

Prinsip Kepemimpinan yang efektif

Prinsip Kepemimpinan dalam Manajemen Krisis Berlandaskan Welas Asih

“This is a time for you to call on the resources, the capabilities of all of your employees, all of your team members, and bring them together in taskforces, sub-taskforces, and potentially have a role for everyone in which they feel they can contribute to overcoming the uncertainty, overcoming the crisis.”John Quelch 

Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Segala sesuatu yang telah terencana, bisa saja terlaksana, namun tak jarang semuanya tanpa kita kehendaki justeru gagal dan menjadi sia-sia. Seperti yang kini tengah terjadi di hampir seluruh belahan dunia, penyebaran pandemi Covid-19 yang tak pernah diduga-duga.

Pandemi Covid-19 telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan umat manusia. Mulai dari aspek kesehatan, pendidikan, sosial, hingga ekonomi. Tentu hal ini membuat kecemasan yang timbul di benak banyak orang, termasuk para pengusaha. Keadaan inilah yang membuat perusahaan berada dalam keadaan krisis.

Krisis adalah sebuah keadaan dimana situasi tidak stabil dan berbahaya yang memengaruhi individu, kelompok, komunitas, atau seluruh masyarakat. Krisis dianggap membawa perubahan negatif dalam urusan keamanan, ekonomi, politik, sosial, atau lingkungan, terutama ketika krisis terjadi tiba-tiba, dengan sedikit atau tanpa peringatan. Dibutuhkan kemampuan para pemimpin dalam menghadapi masa krisis.

Dalam tulisannya yang berjudul 7 Leadership Principles for Managing in the Time of Coronvirus, John A. Qualch menyebutkan ada 7 prinsip kepemimpinan yang layak dilakukan oleh para pemimpin, khususnya para pimpinan perusahaan:

  1. Calm (Tenang)

Orang tua Anda, karyawan Anda, pelanggan Anda, pemasok Anda, akan memandang Anda sebagai pemimpin untuk memproyeksikan rasa tenang melalui situasi yang sulit dan tidak pasti ini.

  1. Credibility (Kepercayaan)

Anda harus memproyeksikan kepercayaan diri bahwa Anda akan dapat melihat ini dengan sukses, dengan jumlah kerugian minimum bagi perusahaan, tetapi juga untuk semua pemangku kepentingan yang mengandalkan kepemimpinan Anda untuk mendapatkannya melalui hari-hari yang sulit dan beberapa bulan ke depan.

  1. Communication (Komunikasi)

Anda harus tanpa henti berkomunikasi, berkomunikasi, berkomunikasi. Ini untuk menghindari gosip yang berkembang di perairan. Tetapi ketika saya berbicara tentang komunikasi, saya juga berbicara tentang strategi komunikasi. Anda memerlukan rasa ketertiban untuk mengkomunikasikan keputusan dan prioritas, tetapi juga memiliki komunikasi yang cepat ke seluruh badan konstituen — tidak menunda berjam-jam atau berhari-hari atau, bahkan lebih buruk lagi, berminggu-minggu. Diam benar-benar hal terburuk yang Anda biarkan terjadi, karena saat itulah rumor berkembang.

  1. Colaboration (Kolaborasi)

Anda tidak akan tahu semua jawaban; tidak ada yang mengharapkan Anda. Ini adalah waktu bagi Anda untuk memanggil sumber daya, kemampuan semua karyawan Anda, semua anggota tim Anda, dan menyatukan mereka dalam gugus tugas, sub-gugus tugas, dan berpotensi memiliki peran untuk semua orang di mana mereka merasa dapat berkontribusi untuk mengatasi ketidakpastian, mengatasi krisis. Melibatkan karyawan dengan cara ini juga akan mengurangi desas-desus itu, memberi keyakinan kepada mereka bahwa mereka kemudian akan memproyeksikan pada orang-orang yang mengandalkan mereka sebagai manajer untuk pengarahan.

  1. Community (Komunitas)

Kita semua hidup dalam komunitas. Pabrik-pabrik kami ada di komunitas, perguruan tinggi dan universitas kami ada di komunitas. Kami memimpin dengan memberi contoh, tidak hanya di dalam organisasi kami, tetapi di dalam komunitas kami yang lebih luas. Dan terutama karena kita berbicara di sini tentang virus menular, sangat penting bagi kita untuk memberikan contoh, model perilaku yang ramah dan mendukung komunitas.

  1. Compassion (Welas Asih)

Welas asih sangat penting saat ini. Kita mungkin bangkit jika kita beruntung memiliki tim yang baik di sekitar kita, tetapi ada banyak orang di organisasi kita yang bergantung pada kita, yang tidak selalu tangguh. Dan mereka perlu diberi belas kasihan untuk mengungkapkan keprihatinan mereka. Jadi, pikirkan seseorang di organisasi Anda yang memiliki orang tua lanjut usia dalam kondisi kesehatan yang rapuh. Mereka akan sangat khawatir tentang kerabat pada saat ini ketika virus berpotensi mempengaruhi yang paling rentan dan ditantang secara medis di komunitas kami. Jika mereka ingin istirahat, jika mereka ingin bekerja dari rumah, jika mereka perlu memiliki sedikit ruang untuk menjaga anggota keluarga mereka, mohon pertimbangkan untuk memberikannya kepada mereka. Belas kasihan pada saat krisis adalah manifestasi kepemimpinan yang sangat penting.

  1. Cash (Tunai)

C komersial yang paling jelas dari 7 C adalah Uang. Uang tunai adalah raja pada saat krisis, dan segala sesuatu perlu dilakukan untuk melihat baik jangka pendek dan jangka panjang pada kesehatan keuangan organisasi. Lagi pula, karyawan, pemasok, dan pelanggan Anda bergantung pada Anda untuk memimpin, tidak hanya secara emosional tetapi juga dengan hati-hati sehubungan dengan keuangan jangka panjang organisasi. Apa pun yang dapat Anda lakukan untuk menghemat uang akan menjadi sangat penting, karena itulah yang akan menentukan apakah karyawan Anda akan dibayar minggu depan.  

 

Yadu Nandana
Junior Consultant HumanDynamics

Build People Build Business

Build People, Build Business

Build People, Build Business , saat ini dunia sedang menghadapi kemajuan teknologi dan sistem informasi yang sangat cepat. Hal ini membuat organisasi-organisasi, khususnya organisasi bisnis berlomba-lomba untuk melakukan inovasi guna menciptakan produk atau jasa yang kekinian. Seakan-akan mengisyaratkan, yang tidak dapat mengikuti perkembangan jaman maka silakan bersiap-siap untuk ketinggalan.

Belajar dari kebangkrutan Nokia, rupanya inovasi menjadi kunci dari keberlangsungan bisnis di era globalisasi. Hanya dengan inovasi yang terus berkembang sajalah para pelaku bisnis dapat memenuhi kebutuhan pasar yang selalu berubah-ubah.

Dibutuhkan investasi yang besar untuk mempersiapkan masa depan di tengan dinamisnya laju perekonomian dunia. Investasi itu tidak hanya sekadar menyetorkan uang pada lembaga maupun pihak tertentu dan menunggu hasilnya saja.

Paul Turner dan Denny Kalman dalam bukunya yang berjudul “Make Your People Before Your Products” menyarankan untuk memberikan ruang gerak yang luas dan nyaman kepada orang-orang dalam organisasi untuk mengembangkan diri, potensi dan talenta yang dimiliki. Membimbing, mengarahkan dan memahami mereka secara penuh, membuat produktivitas mereka akan meningkat secara alami. Inilah investasi yang terpenting untuk dilakukan saat ini.

Segala bentuk inovasi yang diharapkan perusahaan muncul dari sumber daya menusia di perusahaan itu sendiri. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas, maka tidak akan ada hasil dari pekerjaan yang totalitas.

Untuk itu, membangun sumber daya manusia yang berkualitas adalah PR bagi organisasi-organisasi bisnis agar dapat bersaing di era ini. Budaya perusahaan yang kaku sudah semestinya ditinggalkan. Budaya yang memberikan ruang bebas bagi setiap individu untuk dapat meningkatkan kemampuan alaminya-lah yang harusnya diciptakan.

Pada akhirnya, dengan membangun sumber daya manusia yang berkualitas, diharapkan dapat menciptakan sistem manajemen yang juga berkualitas. Dengan begitu, akan lahir produk dan jasa yang dapat unggul bersaing di pasar dan membawa organisasi bisnis mencapai target dan tujuan bersama.

Yadu Nandana
Junior Consultant of HumanDynamics

Self-Respect – Sembilan Langkah Menjadi Diri Anda

“Bentuk sederhana dari welas asih pada diri sendiri (self-compassion) adalah menghargai diri sendiri, yang memperkuat tumbuh kokohnya pohon diri sendiri.” (OareSaga)

Tulisan Self-Respect ini merupakan bagian dari cara sederhana dan praktis dalam membangun self-compassion (welas asih pada diri sendiri). Tulisan ini sudah pernah penulis publikasikan di akun pribadi pada April 2014. Mengingat tulisan di akun pribadi itu demikian besar responnya sehingga dibagikan oleh banyak rekan penulis. Tulisan tersebut penulis unggah lagi di sini dengan melakukan penyuntingan minor.

Pada tulisan dengan judul “Welas Asih dan Manfaatnya”, sudah disampaikan bahwa secara sederhana self-compassion (welas asih pada diri sendiri) dapat diartikan sebagai bersikap simpatik dan baik yang dilandasi welas asih kepada diri sendiri.

Respek adalah perasaan hormat yang dalam disertai penghargaan yang ditujukan bagi seseorang atau sesuatu yang timbul karena kemampuan, kualitas, atau prestasinya. Self-respect berarti rasa hormat dan penghargaan itu ditujukan pada diri sendiri.

Kemampuan memberikan rasa hormat dan penghargaan, baik bagi diri sendiri, orang lain atau pun sesuatu ini bersumber dari pola pikir (mindset) seseorang.

Dinamikanya begini. Mindset yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri sangat menentukan bagaimana seseorang bersikap pada dirinya, yaitu melihat dirinya, bisa positif atau negatif. Cara melihat diri sendiri ini mempengaruhi citra-diri (self-image) seseorang tentang dirinya. Citra-diri seseorang mempengaruhi harga-diri (self-esteem)-nya, yaitu tingkat keyakinan yang dimiliki seseorang pada dirinya yang kemudian berdampak pada kepercayaan diri (self-confidence)-nya. Kepercayaan diri seseorang mempengaruhi penghargaannya pada diri sendiri (self-respect). Seberapa besar penghargaan seseorang pada dirinya, seperti itulah menjadikan dirinya.

Mengembangkan rasa yang kuat dalam menghargai diri (self-respect) dapat membantu Anda dalam mengembangkan secara optimal potensi yang dimiliki, mengembangkan hubungan baik yang sehat dengan orang lain, dan membuat semua orang di sekitar Anda melihat Anda sebagai orang yang layak dihormati.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang kurang bisa menghargai dirinya sendiri, sehingga ia tidak mampu menghargai orang lain. Salah satunya adalah pola asuh orangtua yang diterapkan saat seseorang masih kanak-kanak. Orangtua yang memperlakukan anaknya penuh dengan tuntutan, tekanan, bahkan intimidasi dan kekerasan pada anak di masa kanak-kanaknya akan menjadikan si anak kurang mampu menghargai dirinya sendiri. Dampaknya setelah tumbuh besar bahkan setelah dewasa akan ada permasalahan emosional yang belum terselesaikan sehingga ia kurang mampu memberikan respek pada dirinya sendiri dan orang lain. Self-compassion-nya terhambat untuk bertumbuh-kembang dengan baik.

Tulisan ini dibuat untuk berbagi tips praktis bagi setiap orang yang hendak bertumbuh-kembang agar mampu memberikan respek, mampu memberikan rasa hormat dan penghargaan, khususnya pada dirinya sendiri. Dengan demikian, akan membuka pintu bagi tumbuh-kembangnya self-compassion (welas asih pada diri sendiri).

Tips Memberikan Respek pada Diri Sendiri:

  1. Kenali diri sendiri
    Mengenali diri sendiri berarti mengetahui keunikan diri Anda, seperti sifat-sifat Anda, kelebihan dan kekurangan Anda, potensi yang Anda punyai, dan keterampilan yang Anda miliki. Makin Anda mengenali keunikan diri Anda maka makin Anda bisa menghargai diri sendiri. Dengan mengenali diri sendiri maka Anda bisa mengarahkan dan menentukan diri Anda. Karenanya, berhentilah menjadi kaki tangan persetujuan orang lain dalam menentukan diri Anda sendiri dan mulailah mengembangkan standar Anda sendiri.
  2. Maafkan diri sendiri
    Memaafkan diri sendiri berarti Anda menyayangi diri Anda. Jika Anda ingin menghargai dan menghormati diri sendiri, Anda harus bisa memaafkan diri sendiri atas apapun yang terjadi di masa lalu yang membuat Anda kurang bangga pada diri sendiri. Hal-hal di masa lalu yang membuat Anda “kurang beruntung” itu bisa karena Anda melakukan kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja, perlakukan tidak adil yang pernah Anda alami yang membuat Anda kurang bisa menerima diri sendiri, ataupun karena kondisi lingkungan yang membuat Anda terlalu keras pada diri sendiri dalam melakukan usaha-usaha yang tanpa Anda sadari menyakiti diri Anda.Khusus terkait dengan kesalahan di masa lalu yang Anda lakukan yang membuat orang lain tersakiti, memaafkan diri sendiri bukan berarti Anda harus mengabaikan kenyataan bahwa Anda telah membuat orang lain terluka perasaannya. Memaafkan diri sendiri yang dimaksudkan di sini ditujukan agar Anda tidak terus menerus terbelenggu merasa buruk tentang diri Anda atau terus menerus menyalahkan diri Anda atas kesalahan yang pernah Anda lakukan itu. Mulailah tahap hidup baru. Akui bahwa Anda pernah melakukan kesalahan pada orang lain. Bila memungkinkan, tuluslah meminta maaf kepada orang lain yang Anda pernah sakiti. Setelah itu, bergeraklah maju bertumbuh menjadi orang yang Anda inginkan. Jika Anda terkungkung pada kesalahan masa lalu dan bersikeras terus menyalahkan diri sendiri, Anda tidak akan pernah bisa bergerak maju bertumbuh-kembang.
  3. Menerima Diri Sendiri
    Jika Anda benar-benar ingin menghargai dan menghormati diri sendiri, Anda harus tulus menerima diri sendiri, dengan segala keunikannya. Belajarlah untuk menerima dan mencintai diri Anda apa adanya. Rangkul kekurangan diri Anda. Terima, cintai, dan sukai semua kekurangan itu, terutama hal-hal pada diri Anda yang membuat Anda kurang sempurna dan kekurangan yang tidak bisa diubah.Berhentilah membuat alasan untuk menutupi kekurangan itu atau untuk membuat Anda jadi orang lain. Ingat, tidak ada orang yang sempurna, demikian juga Anda. Ingat juga bahwa Anda pun memiliki kelebihan! Dengan segala kelebihan dan kekurangan Anda, teruslah bertumbuh menjadi diri Anda sendiri.
  4. Syukuri Diri Anda
    Syukur adalah bentuk lain cinta kasih sebagai ungkapan rasa bahagia. Berterimakasih dan bersyukur lah dengan apa adanya diri Anda. Tuhan menciptakan setiap orang dengan keunikannya masing-masing. Berpuas diri lah menjadi hanya diri Anda sendiri tanpa harus membandingkan diri Anda dengan orang lain. Anda adalah pribadi yang hebat dengan keunikan yang Anda miliki.
  5. Latih dan Pelihara Sikap Mental Positif
    Sikap Anda adalah kekuatan terbesar yang mengarahkan hidup Anda. Sikap Anda atas diri Anda sendiri jauh lebih memegang peranan penting dari pada keadaan atau pun kejadian yang Anda alami. Sikap Anda bisa membuat Anda sukses, namun juga bisa menghancurkan diri Anda. Karenanya, latih dan peliharalah Sikap Mental Positif (Positive Mental Attitude, PMA). Sikap Mental Positif adalah filosofi hidup dengan sikap optimis dalam setiap situasi kehidupan, apa pun situasi yang dihadapi. Melatih dan memelihara Sikap Mental Positif berarti Anda membiasakan diri mengembangkan emosi “positif”, yang membuat otak secara alami mengeluarkan hormon BETA-endorfin (β-endorphin), yaitu hormon kebahagiaan yang berkhasiat memperkuat daya tahan tubuh, menjaga sel otak tetap muda, melawan penuaan, menurunkan agresivitas dalam relasi antar manusia, meningkatkan semangat, daya tahan, dan kreativitas. Sikap Mental Positif menjadikan Anda bertumbuh secara alami.
  6. Hentikan Bersaing dengan Orang Lain
    Untuk mampu menghargai dan menghormati diri sendiri agar kemudian menjadi diri Anda sendiri, Anda tidak perlu bersaing dengan orang lain. Karenanya, hentikan sikap untuk bersaing dengan orang lain siapa pun. Sikap bersaing membuat Anda mudah lelah secara mental dan hidup Anda dikendalikan orang lain. Tentukan hal-hal baik untuk diri Anda menurut standar ukuran Anda dan oleh diri Anda juga, bukan menurut orang lain dan berdasarkan standar ukuran orang lain. Standar itu bisa dalam bentuk tampilan, cara belajar, cara kerja, keinginan, dan arah untuk kemajuan diri Anda. Bahasa kiasannya, “menarilah di atas genderang yang Anda tabuh sendiri, bukan menari di atas tabuhan genderang orang lain”.
  7. Arahkan Minat untuk Mengembangkan Bakat Anda
    Minat adalah dorongan kuat dalam diri seseorang untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Sedangkan bakat adalah talenta yang dibawa sejak lahir. Minat menjadi salah satu faktor yang dapat mengarahkan bakat. Setiap orang lahir dibekali bakat masing-masing, termasuk Anda. Temukan bakat-bakat yang menjadi keunikan bawaan Anda, lalu jadikan minat sebagai pendorong agar bakat Anda itu dapat Anda aktualisasikan dalam kehidupan Anda. Dengan Anda mengembangkan bakat Anda berarti Anda menghargai diri Anda untuk bertumbuh optimal.
  8. Disiplinlah Mengatur Diri Anda
    Disiplin diri adalah salah satu kunci kesuksesan. Membangun disiplin diri membutuhkan komitmen dan tekad kuat dari dalam diri Anda sendiri. Disiplin mengatur diri sendiri perlu Anda terapkan dalam semua aspek kehidupan, seperti mengatur waktu untuk urusan pribadi, berolah raga dan menjaga kesehatan, mengerjakan tugas belajar atau tugas kerja, dan sebagainya. Dengan disiplin diri berarti Anda menghargai diri sendiri dengan membangun kebiasaan untuk menjadi pribadi yang sukses.
  9. Jaga Integritas Diri dan Jadilah Pribadi Bertanggung Jawab
    Integitas adalah satu dan menyatunya hati, pikiran, kata, dan perbuatan. Sedangkan tanggung jawab adalah keberanian menanggung segala sesuatu atas tindakan yang Anda lakukan baik dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatan. Menjaga integritas dan menjadi pribadi bertanggung jawab berarti Anda membangun karakter Anda, yaitu budi pekerti yang membedakan Anda dari orang lain. Karakterlah yang menentukan kesuksesan dan hidup Anda.

Selamat bertumbuh-kembang menjadi diri Anda sendiri. Menjadi pribadi hebat nan istimewa dengan memberikan respek, rasa hormat, dan penghargaan kepada diri Anda sendiri. Dengan demikian, Anda mulai membuka pintu dan menerapkan self-compassion (welas asih pada diri sendiri).

KS Arsana
Managing Director & Executive Consultant of HumanDynamics

Welas Asih dan Manfaatnya

Dalam sebuah workshop intensif yang merupakan bagian dari perjalanan kami membangun Compassionate Organization (Organisasi Berdasar Welas Asih) di Fajar Benua Group, kami bersepakat bahwa definisi compassion adalah “kesadaran welas-asih dalam bentuk empati dan simpati yang diwujudkan dalam pelayanan tulus secara berkesinambungan untuk mendorong setiap individu bertumbuh-kembang menjadi lebih baik”.

Kami memulai pengertian compassion dengan kata “kesadaran” karena compassion (welas asih) pada dasarnya sudah dimiliki oleh setiap orang. Itu merupakan sifat alami bawaan setiap orang sebagai manusia. Peran dan tugas kami adalah mengingatkan setiap anggota organisasi untuk menghidupkan sifat welas asihnya dan membantu mereka merealisasikan sifat welas asih itu ke dalam perilaku sehari-hari.
Membangun Compassionate Organization (Organisasi Berdasar Welas Asih) dimulai dari diri sendiri pada setiap individu di dalam organisasi apapun peran dan posisinya. Membangun Compassionate Organization (Organisasi Berdasar Welas Asih) dimulai dengan membangun self-compassion (welas asih pada diri sendiri).

Apa itu self-compassion?

Ada sebuah kisah menarik untuk memahaminya. Kristin Neff, seorang associate professor di University of Texas di Austin pada tahun 2004 memiliki anak bernama Rowan yang didiagnosis autisme. Di tengah-tengah penelitian rintisan para psikolog tentang self-compassion pada anaknya itu, Neff menemukan bahwa penelitian itu justeru sangat berarti bagi dirinya sendiri.

Dia menyadari bahwa menerima anaknya dengan apa adanya dan membiarkan anaknya bersikap simpatik pada dirinya sendiri serta membiarkannya berjuang mengatasi sendiri secara konstruktif masalah yang dihadapinya sangatlah penting. Dia hanya memberikan sarana dan dukungan emosional atas setiap kemajuan yang ditunjukkan Rowan, anaknya itu. Pengalamannya ini ditulis Neff dalam buku “Self-Compassion” (William Morrow, 2011).

Jadi, secara sederhana self-compassion dapat diartikan sebagai sikap simpatik dan baik yang dilandasi welas asih kepada diri sendiri. Welas asih pada diri sendiri sering disalahpahami sebagai bentuk sikap egois yang memanjakan dan mengasihani diri sendiri (self-pity). Kesalahpahaman ini tidak akan terjadi bila kita dapat membedakan antara mengasihi dan mengasihani. Mengasihi dilandasi oleh welas asih, sedangkan mengasihani dilandasi oleh kasihan.

Prinsip dasarnya, self-compassion adalah kemampuan untuk mengubah pemahaman, penerimaan, dan cinta kasih ke dalam diri. Banyak orang yang mampu menyampaikan cinta kasih kepada orang lain namun merasa sulit untuk mengulurkan kasih sayang yang sama kepada diri mereka sendiri. Di sisi yang lain, mengasihani diri sendiri (self-pity) adalah emosi yang diarahkan pada orang lain dengan tujuan menarik perhatian, empati, atau bantuan dari orang lain. Emosi ini ditunjukkan karena merasa kasihan pada diri mereka sendiri.

Penelitian tentang self-compassion yang terus dilakukan oleh para psikolog menemukan bahwa sikap welas asih kepada diri sendiri mungkin merupakan keterampilan hidup yang paling penting karena memberikan ketahanan hidup, keberanian, energi, kreativitas, dan kemampuan untuk menghargai. Kini banyak profesional di bidang kesehatan mental membantu klien-kliennya mengembangkan kasih sayang untuk diri mereka sendiri.

Manfaat Welas Asih

Kurangnya kasih sayang untuk diri sendiri umumnya berdampak pada kesehatan mental. Dampak ketidaksehatan mental yang ringan, biasanya mudah menimbulkan kondisi-kondisi kecemasan, merasa malu, merasa tidak aman, dan kurang percaya diri. Dampak ketidaksehatan mental yang berat, dapat menimbulkan distress yang berkepanjangan, depresi, dan perilaku anti-sosial.

Dari berbagai penelitian yang sudah dan sedang berkembang dilakukan oleh para psikolog dan para peneliti perilaku, disimpulkan bahwa self-compassion (welas asih pada diri sendiri) memiliki banyak manfaat. Disebutkan manfaat self-compassion (welas asih pada diri sendiri) diantaranya adalah:

  • Meningkatkan kebahagiaan
  • Meningkatkan optimisme
  • Meningkatkan motivasi
  • Meningkatkan sikap positif
  • Meningkatkan harga diri
  • Meningkatkan kebijaksanaan
  • Meningkatkan inisiatif pribadi
  • Meningkatkan keingintahuan dan eksplorasi
  • Meningkatkan rasa senang dan gembira
  • Meningkatkan kemampuan bersikap terbuka
  • Menumbuhkan ketahanan diri
  • Mengurangi masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, distress, dan depresi

KS Arsana
Managing Director & Executive Consultant of HumanDynamics

4 Cara Ini Terbukti Ampuh untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja

Di dunia kerja karyawan dituntut untuk dapat bekerja dengan baik sesuai dengan job description yang sudah diberikan. Berbeda posisi, tentu akan berbeda jenis pekerjaan yag harus dilakukan. Mulai dari jabatan tertinggi hingga ke level staff semuanya harus secara maksimal dalam bekerja guna mencapai target-target perusahaan yang sudah ditetapkan.

Bagi karyawan baru, biasanya akan menunjukkan performa kerja terbaiknya di tiga bulan pertama. Pada saat inilah ia akan sungguh-sungguh bekerja sesuai dengan target yang diberikan guna memberikan kepuasan bagi atasannya. Dengan harapan ia mendapatkan penilaian baik dari perusahaan. Namun, tidak menutup kemungkinan kinerja karyawan akan merosot yang menyebabkan target-target tak tercapai. Berikut adalah 4 cara untukmningkatkan kinerja kerja karyawan:

Memberikan Lingkungan Kerja yang Baik

Pada prinsipnya orang akan nyaman bekerja di lingkungan yang baik. Artinya, faktor-faktor pendukung seperti ruangan yang nyaman, tidak bising, fasilitas yang memadai untuk menunaikan pekerjaan haruslah mendukung. Para ahli Sumber Daya Manusia (SDM) mengungkapkan pentingnya memberikan lingkungan kerja yang baik ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kinerja karyawan.

Memberikan Motivasi untuk Bekerja Secara Maksimal

Selain lingkungan kerja yang baik, seorang karyawan membutuhka dorongan secara mental dalam bekerja, khususnya dari atasannya. Seorang atasan harus mampu memberikan motivasi kepada bawahannya dengan terus mendorong ia agar dapat bekerja secara maksimal. Dorongan atau motivasi inilah yang menjadi salah satu cara untuk membuat karyawan memberikan performa kerja terbaiknya.

Dengarkan Mereka

Tidak selamanya aspirasi datang hanya dari atasan. Sesekali harus ada pertemuan atau obrolan santai antara atasan dengan bawahan. Pada saat itu, seorang atasan harus memposisikan dirinya sebagai seorang pendengar dan meminta bawahannya untuk menyampaikan aspirasi atau pemikiran-pemikiran yang ia miliki dalam kaitannya dengan pekerjaan. Dengan begitu, karyawan akan merasa diberikan ruang untuk berpendapat dalam rangka mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas kerja untuk kepentingan bersama.

Berikan Kebebasan untuk Berkembang

Di dalam perusahaan yang mengedapankan budaya yang berlandaskan welas asih atau compassionate organization, seluruh karyawan akan diberikan kebebasan untuk bertumbuh kembang. Pimpinan perusahaan haruslah dapat menjadi inspirator bagi seluruh karyawan sehingga terjadi dukungan yang terus mengalir agar mereka dapat tumbuh setinggi-tingginya sesuai dengan bakat yang dimiliki dan pada akhirnya bekerja secara maksimal untuk perusahaan.

Compassionate Organization (Organisasi berdasar Welas Asih)

“If you give your people the chance to perform at their best, if they are engaged in what you’re trying to achieve and if you have a workplace in which they can develop and shine then you will have a powerful edge that no other organization can copy. Your people can be your unique source of competitive advantage” – Paul Turner and Danny Kalman.

Paul Turner dan Denny Kalman dalam bukunya Make Your People Before Your Products menyarankan untuk memberikan ruang gerak yang luas dan nyaman kepada orang-orang dalam organisasi untuk mengembangkan diri, potensi dan talenta yang dimiliki. Membimbing, mengarahkan dan memahami mereka secara penuh, membuat produktivitas mereka akan meningkat secara alami.

Organisasi, terutama organisasi bisnis saat ini dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan kerja akibat masuknya para pekerja milenial. Bahkan dibeberapa tempat mereka sudah mulai mendominasi, baik dari sisi jumlah maupun cara kerja. Para milenial ini memiliki ciri yang berbeda dengan pendahulunya. Mereka lebih cair, bisa berpindah kapan saja, tidak menyukai herarki organisasi, menyukai tantanganan, suka bekerja keras dan berpikiran positif afirmatif, menyukai tempat kerja yang nyaman, dan pemimpin yang memberi teladan.

Tantangan bagi ornanisasi bisnis tidak hanya itu, teknologi infofmasi membuat bisnis dihadapkan dengan perubahan yang super tinggi, super cepat. Kita semua tahu itu.

Banyak organisasi merespon perubahan-perubahan tersebut dengan membangun tembok tebal berupa aturan yang ketat, standar capaian yang tinggi, dan hal-hal lain yang dianggap mampu secara struktur mempertahankan para pekerja milenial sekaligus mengejar dinamika perubahan yang cepat. Tidak salah memang. Namun di beberapa tempat, bahkan dibanyak tempat, cara-cara ini kurang berhasil.

Di banyak organisasi terutama pada organisasi bisnis saat ini, ketiadaan keterikatan psikologis, pemutusan kerja, perampingan, korupsi, intimidasi dan kesalahan perlakuan telah menyebabkan krisis dan ketidakpercayaan manajemen yang mendalam. Kepemimpinan disebagian besar organisasi bisnis gagal merespon masalah-masalah tersebut secara memadai. Akibatnya, tempat kerja penuh dengan kecemasan, persaingan untuk mendapatkan pengakuan, pemimpin melemahkan karyawan, saling sabotase sesama rekan kerja dan ketidakamanan kerja yang semakin tinggi.

Rasanya bukan lingkungan kerja seperti itu yang dibutuhkan untuk merespon kebutuhan dinamika organisasi yang cepat dan sekaligus mempertahankan loyalitas para pekerja. Atau paling tidak, praktik-praktik seperti itu tidak bisa berhasil di semua organisasi.

Beberapa ahli manajemen seperti Gay Haskin, Mike Thomas, Mark Benioff dan juga Karen Southwick memperkalkan dan menyarankan sistem organisasi yang menjadikan kebaikan dan welas asih sebagai jiwa (soul), nilai-nilai (values) dalam tatanan strategis dan implementasinya. Organisasi yang digerakkan dengan nilai-nilai welas asih atau yang dikenal dengan “compassion organization” merupakan alternatif yang layak dicoba untuk mempertahankan peningkatan produktivitas yang berkesinambungan (sustainable productivity improvement) di dalam bisnis kita.

Compassionate organization akan menciptakan tempat kerja welas asih (compassionate workplace) yang dapat membangun emosi kerja yang positif, dan emosi positif akan menciptakan lingkungan yang positif. Lingkungan yang positif akan mendorong semua elemen organisasi bergerak kearah yang positif, dan tentunya kearah produktifitas yang berkesinambungan.

Teori manajemen mengidentifikasi kasih sayang sebagai perhatian mendalam terhadap kesejahteraan orang lain yang mempertimbangkan seluruh hidup seseorang. Compassionate organization terjadi ketika individu dalam organisasi bereaksi dan merespons masalah dan kebutuhan manusia secara terkoordinasi. Memperhatikan, melibatkan, dan mengenali kebutuhan orang lain. Ada proses perasaan yang melibatkan hubungan secara empatik, dan merespons secara strategis dengan penataan lingkungan kerja yang mampu menyeimbangkan antara konten emosional dengan pencapatian-pencapaian organisasi secara keseluruhan.

Compassionate organization membutuhkan compassionate leadership. Para pemimpin pada compassionate organization adalah mereka yang menjunjung nilai-nilai (values) dan menjalankan kehidupan pribadi dengan statndar etika yang tinggi, mereka membuat keputusan secara adil dan dapat dipercaya. Mereka bertanggung jawab atas keputusan mereka dan sadar akan peran mereka dalam situasi apa pun. Pencapaian mereka terhadap kualitas yang diinginkan secara langsung memengaruhi cara karyawan berperilaku.

Pemimpin welas asih (compassionate leader) membutuhkan refleksi diri dan transformasi pribadi. Dapat mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka sendiri, dan lebih siap untuk mengenali dan memanfaatkan bakat orang lain. Mereka merangkul karyawan sebagai pribadi seutuhnya, menemukan potensi manusia, menciptakan tim pendukung, menjalin keterlibatan positif, dan mendorong pertumbuhan organisasi dengan menjunjung etika dalam komunitas kerja.

Compassionate Organization dimulai dari standar etika di kalangan pekerja, dengan merekrut pelamar yang memiliki standar etika, mengartikulasikan visi organisasi yang menyatakan nilai-nilai inti (core values) dan standar etika, membangun penilaian yang mendukung berjalannya praktik etika dan welas asih, memberikan pengembangan profesional dan pelatihan untuk memungkinkan karyawan mengembangkan keterampilan mereka secara penuh.

Akhirnya, organisasi yang dilandaskan pada kebaikan dan welas asih ini diharapkan dapat membawa kesuksesan yang berkesinambungan baik bagi organisasi dan secara bersamaan juga bagi individu. Kebaikan dan welas asih menjadi kuncinya, seperti kata Nadin Meloth, International co-president European Women’s Management Development International Networks (EWMD), “Kindness is not an optional. In the world that is getting more complex and digital every day, kindness is an indispensable of your successful leadership”

Nyoman Marpa
Executive Consultant HumanDynamics