Compassion dan Pandemic

Menyebarnya Covid-19 yang belum terhenti menyebabkan dampak negatif yang teramat serius dalam kehidupan fisik, psikis, sosial, ekonomi dan ketenagakerjaan di antara kita.

Dampaknya yang mendalam masih akan berlangsung cukup lama di Indonesia dan di banyak negeri lain. Krisis ini akan menjadi lebih berat dahulu sebelum perlahan membaik dan kemudian kita memasuki situasi normal yang baru.

Berapa lama proses ini berlangsung sangat tergantung dari kemampuan dan kebijakan para pemimpin, ilmuwan, serta para pelaksana kebijakannya, dan oleh perilaku dan budaya masyarakat itu sendiri.

Secara umum kita menyaksikan adanya kecenderungan bahwa di mana masyarakat mampu belajar dari pengalaman, mempunyai literasi tinggi, mempunyai kesiagaan organisasi dan teknologi, serta kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan, mereka berhasil memperpendek  waktu krisis dan mengurangi dampaknya dengan lebih cepat, dengan korban yang lebih sedikit.

Di masyarakat seperti itu kita juga melihat adanya trust terhadap sistem yang ada dan kepada para pemimpinan masyarakat serta adanya saling percaya di antara anggota masyarakat itu sendiri.

Pandemic bila ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, seperti lingkungan hidup, perilaku, obsesi, pengembangan pendidikan dan ekonomi manusia, bahkan agama, seolah-olah merupakan sebuah peringatan agar kita mereset tata-kelola kehidupan kita.

Para ahli meramalkan tata-kelola dalam masa situasi normal yang baru nanti, tidak mungkin atau tidak boleh sama dengan masa sebelum pandemi. Perilaku dan tata-kelola akan dituntut untuk lebih mengedepankan kesetaraan, mengurangi kesenjangan, memperbaiki sarana kesehatan, menjaga lingkungan hidup serta menangani climate change dengan lebih bersungguh-sungguh disamping meningkatkan kinerja ekonomi.

Pandemic merupakan sebuah kekuatan dan kejadian disruptive.

Pakar Theory of Disruptive Innovation almarhum Clay Christensen menemukan mengapa kita tidak siap mengantisipasi dan menghadapi disrupsi. Mengapa kita sebagai pribadi atau sebuah perusahaan besar yang telah mapan dapat ambruk karena diterpa kejadian disruptif atau berperilaku tidak antisipatif.

Christensen disamping seorang guru besar dan pelaku bisnis terkemuka dari Harvard Business School dia juga  seorang penganut agama Latter Day Saints atau Mormon yang soleh; seorang spiritualis.

Di dalam kehidupan pribadi diungkapkan olehnya kita yang telah sukses dalam studi, kemudian maju di awal karir, usaha, dan berkeluarga bisa kemudian hancur berantakan, ada yang dipenjara, istri lari dengan orang lain dan anak-anak tidak lagi berlaku hormat.

Dia menemukan bahwa setelah seseorang menentukan apa yang ingin didapatkannya – seperti kesinambungan dalam berusaha atau menciptakan keluarga bahagia – kemudian dia mengambil langkah-langkah terencana yang menurutnya baik.

Tetapi sering kemudian terbukti langkah-langkah tersebut salah. Penyebabnya adalah karena kita selalu memilih rencana dan tindakan yang mendatangkan hasil nyata dalam waktu singkat, tidak berpedoman kepada upaya untuk mencapai kesinambungan,  tidak konsisten terhadap visi atau cita-cita luhur kita. Sama dengan apa yang dilakukan oleh para pemimpin perusahaan.

Clay Christensen menekankan pentingnya humility, kerendahan hati saat menjalani  kehidupan dan saat kita bekerja, memimpin. Manusia atau pemimpin yang rendah hati selalu tahu siapa dirinya, merasa senang dan puas saat menyadari siapa dirinya sebenarnya, dia tahu tentang kemampuan dirinya, dan selalu ingin bertanya dan belajar.

Rendah hati membuat  seseorang berperilaku baik terhadap dirinya sendiri dan orang lain; ia selalu menghormati orang lain dan tentu tidak berbohong. Dia mengutamakan kelanggengan dan kemajuan diri maupun usahanya, yang penting bukan berapa kekayaan yang terhimpun sesaat akan tetapi berapa orang yang telah ia bantu untuk menjadi orang yang lebih baik dan sukses  sehingga orang itu dapat mengantisapasi dan mengatasi kejadian atau kekuatan disruptive. Kekayaan materiil yang berkelanjutan akan menyusul kemudian.

Lalu dimana letak dan peran Compassion?  Compassion yang terbangunkan dalam diri kitalah yang membuat kita mampu menjadi humble, rendah hati, tulus; kita bahagia bila membuat orang lain maju dan sukses dalam kehidupannya.

Welas-asih atau Compassion hadir dan menjadi pencetus  Core-Values dan dasar semua  tindakan kita.  HumanDynamics menemukan bahwa Compassion  adalah kesadaran welas-asih dalam bentuk empati dan simpati yang diwujudkan dalam pelayanan tulus secara berkesinambungan untuk mendorong setiap individu bertumbuh-kembang menjadi lebih baik.

30 April 2020

Hendranto Adhi
Executive Consultant HumanDynamics

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *