Compassionate Organization (Organisasi berdasar Welas Asih)

“If you give your people the chance to perform at their best, if they are engaged in what you’re trying to achieve and if you have a workplace in which they can develop and shine then you will have a powerful edge that no other organization can copy. Your people can be your unique source of competitive advantage” – Paul Turner and Danny Kalman.

Paul Turner dan Denny Kalman dalam bukunya Make Your People Before Your Products menyarankan untuk memberikan ruang gerak yang luas dan nyaman kepada orang-orang dalam organisasi untuk mengembangkan diri, potensi dan talenta yang dimiliki. Membimbing, mengarahkan dan memahami mereka secara penuh, membuat produktivitas mereka akan meningkat secara alami.

Organisasi, terutama organisasi bisnis saat ini dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan kerja akibat masuknya para pekerja milenial. Bahkan dibeberapa tempat mereka sudah mulai mendominasi, baik dari sisi jumlah maupun cara kerja. Para milenial ini memiliki ciri yang berbeda dengan pendahulunya. Mereka lebih cair, bisa berpindah kapan saja, tidak menyukai herarki organisasi, menyukai tantanganan, suka bekerja keras dan berpikiran positif afirmatif, menyukai tempat kerja yang nyaman, dan pemimpin yang memberi teladan.

Tantangan bagi ornanisasi bisnis tidak hanya itu, teknologi infofmasi membuat bisnis dihadapkan dengan perubahan yang super tinggi, super cepat. Kita semua tahu itu.

Banyak organisasi merespon perubahan-perubahan tersebut dengan membangun tembok tebal berupa aturan yang ketat, standar capaian yang tinggi, dan hal-hal lain yang dianggap mampu secara struktur mempertahankan para pekerja milenial sekaligus mengejar dinamika perubahan yang cepat. Tidak salah memang. Namun di beberapa tempat, bahkan dibanyak tempat, cara-cara ini kurang berhasil.

Di banyak organisasi terutama pada organisasi bisnis saat ini, ketiadaan keterikatan psikologis, pemutusan kerja, perampingan, korupsi, intimidasi dan kesalahan perlakuan telah menyebabkan krisis dan ketidakpercayaan manajemen yang mendalam. Kepemimpinan disebagian besar organisasi bisnis gagal merespon masalah-masalah tersebut secara memadai. Akibatnya, tempat kerja penuh dengan kecemasan, persaingan untuk mendapatkan pengakuan, pemimpin melemahkan karyawan, saling sabotase sesama rekan kerja dan ketidakamanan kerja yang semakin tinggi.

Rasanya bukan lingkungan kerja seperti itu yang dibutuhkan untuk merespon kebutuhan dinamika organisasi yang cepat dan sekaligus mempertahankan loyalitas para pekerja. Atau paling tidak, praktik-praktik seperti itu tidak bisa berhasil di semua organisasi.

Beberapa ahli manajemen seperti Gay Haskin, Mike Thomas, Mark Benioff dan juga Karen Southwick memperkalkan dan menyarankan sistem organisasi yang menjadikan kebaikan dan welas asih sebagai jiwa (soul), nilai-nilai (values) dalam tatanan strategis dan implementasinya. Organisasi yang digerakkan dengan nilai-nilai welas asih atau yang dikenal dengan “compassion organization” merupakan alternatif yang layak dicoba untuk mempertahankan peningkatan produktivitas yang berkesinambungan (sustainable productivity improvement) di dalam bisnis kita.

Compassionate organization akan menciptakan tempat kerja welas asih (compassionate workplace) yang dapat membangun emosi kerja yang positif, dan emosi positif akan menciptakan lingkungan yang positif. Lingkungan yang positif akan mendorong semua elemen organisasi bergerak kearah yang positif, dan tentunya kearah produktifitas yang berkesinambungan.

Teori manajemen mengidentifikasi kasih sayang sebagai perhatian mendalam terhadap kesejahteraan orang lain yang mempertimbangkan seluruh hidup seseorang. Compassionate organization terjadi ketika individu dalam organisasi bereaksi dan merespons masalah dan kebutuhan manusia secara terkoordinasi. Memperhatikan, melibatkan, dan mengenali kebutuhan orang lain. Ada proses perasaan yang melibatkan hubungan secara empatik, dan merespons secara strategis dengan penataan lingkungan kerja yang mampu menyeimbangkan antara konten emosional dengan pencapatian-pencapaian organisasi secara keseluruhan.

Compassionate organization membutuhkan compassionate leadership. Para pemimpin pada compassionate organization adalah mereka yang menjunjung nilai-nilai (values) dan menjalankan kehidupan pribadi dengan statndar etika yang tinggi, mereka membuat keputusan secara adil dan dapat dipercaya. Mereka bertanggung jawab atas keputusan mereka dan sadar akan peran mereka dalam situasi apa pun. Pencapaian mereka terhadap kualitas yang diinginkan secara langsung memengaruhi cara karyawan berperilaku.

Pemimpin welas asih (compassionate leader) membutuhkan refleksi diri dan transformasi pribadi. Dapat mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka sendiri, dan lebih siap untuk mengenali dan memanfaatkan bakat orang lain. Mereka merangkul karyawan sebagai pribadi seutuhnya, menemukan potensi manusia, menciptakan tim pendukung, menjalin keterlibatan positif, dan mendorong pertumbuhan organisasi dengan menjunjung etika dalam komunitas kerja.

Compassionate Organization dimulai dari standar etika di kalangan pekerja, dengan merekrut pelamar yang memiliki standar etika, mengartikulasikan visi organisasi yang menyatakan nilai-nilai inti (core values) dan standar etika, membangun penilaian yang mendukung berjalannya praktik etika dan welas asih, memberikan pengembangan profesional dan pelatihan untuk memungkinkan karyawan mengembangkan keterampilan mereka secara penuh.

Akhirnya, organisasi yang dilandaskan pada kebaikan dan welas asih ini diharapkan dapat membawa kesuksesan yang berkesinambungan baik bagi organisasi dan secara bersamaan juga bagi individu. Kebaikan dan welas asih menjadi kuncinya, seperti kata Nadin Meloth, International co-president European Women’s Management Development International Networks (EWMD), “Kindness is not an optional. In the world that is getting more complex and digital every day, kindness is an indispensable of your successful leadership”

Nyoman Marpa
Executive Consultant HumanDynamics

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *