Welas Asih dan Manfaatnya

Dalam sebuah workshop intensif yang merupakan bagian dari perjalanan kami membangun Compassionate Organization (Organisasi Berdasar Welas Asih) di Fajar Benua Group, kami bersepakat bahwa definisi compassion adalah “kesadaran welas-asih dalam bentuk empati dan simpati yang diwujudkan dalam pelayanan tulus secara berkesinambungan untuk mendorong setiap individu bertumbuh-kembang menjadi lebih baik”.

Kami memulai pengertian compassion dengan kata “kesadaran” karena compassion (welas asih) pada dasarnya sudah dimiliki oleh setiap orang. Itu merupakan sifat alami bawaan setiap orang sebagai manusia. Peran dan tugas kami adalah mengingatkan setiap anggota organisasi untuk menghidupkan sifat welas asihnya dan membantu mereka merealisasikan sifat welas asih itu ke dalam perilaku sehari-hari.
Membangun Compassionate Organization (Organisasi Berdasar Welas Asih) dimulai dari diri sendiri pada setiap individu di dalam organisasi apapun peran dan posisinya. Membangun Compassionate Organization (Organisasi Berdasar Welas Asih) dimulai dengan membangun self-compassion (welas asih pada diri sendiri).

Apa itu self-compassion?

Ada sebuah kisah menarik untuk memahaminya. Kristin Neff, seorang associate professor di University of Texas di Austin pada tahun 2004 memiliki anak bernama Rowan yang didiagnosis autisme. Di tengah-tengah penelitian rintisan para psikolog tentang self-compassion pada anaknya itu, Neff menemukan bahwa penelitian itu justeru sangat berarti bagi dirinya sendiri.

Dia menyadari bahwa menerima anaknya dengan apa adanya dan membiarkan anaknya bersikap simpatik pada dirinya sendiri serta membiarkannya berjuang mengatasi sendiri secara konstruktif masalah yang dihadapinya sangatlah penting. Dia hanya memberikan sarana dan dukungan emosional atas setiap kemajuan yang ditunjukkan Rowan, anaknya itu. Pengalamannya ini ditulis Neff dalam buku “Self-Compassion” (William Morrow, 2011).

Jadi, secara sederhana self-compassion dapat diartikan sebagai sikap simpatik dan baik yang dilandasi welas asih kepada diri sendiri. Welas asih pada diri sendiri sering disalahpahami sebagai bentuk sikap egois yang memanjakan dan mengasihani diri sendiri (self-pity). Kesalahpahaman ini tidak akan terjadi bila kita dapat membedakan antara mengasihi dan mengasihani. Mengasihi dilandasi oleh welas asih, sedangkan mengasihani dilandasi oleh kasihan.

Prinsip dasarnya, self-compassion adalah kemampuan untuk mengubah pemahaman, penerimaan, dan cinta kasih ke dalam diri. Banyak orang yang mampu menyampaikan cinta kasih kepada orang lain namun merasa sulit untuk mengulurkan kasih sayang yang sama kepada diri mereka sendiri. Di sisi yang lain, mengasihani diri sendiri (self-pity) adalah emosi yang diarahkan pada orang lain dengan tujuan menarik perhatian, empati, atau bantuan dari orang lain. Emosi ini ditunjukkan karena merasa kasihan pada diri mereka sendiri.

Penelitian tentang self-compassion yang terus dilakukan oleh para psikolog menemukan bahwa sikap welas asih kepada diri sendiri mungkin merupakan keterampilan hidup yang paling penting karena memberikan ketahanan hidup, keberanian, energi, kreativitas, dan kemampuan untuk menghargai. Kini banyak profesional di bidang kesehatan mental membantu klien-kliennya mengembangkan kasih sayang untuk diri mereka sendiri.

Manfaat Welas Asih

Kurangnya kasih sayang untuk diri sendiri umumnya berdampak pada kesehatan mental. Dampak ketidaksehatan mental yang ringan, biasanya mudah menimbulkan kondisi-kondisi kecemasan, merasa malu, merasa tidak aman, dan kurang percaya diri. Dampak ketidaksehatan mental yang berat, dapat menimbulkan distress yang berkepanjangan, depresi, dan perilaku anti-sosial.

Dari berbagai penelitian yang sudah dan sedang berkembang dilakukan oleh para psikolog dan para peneliti perilaku, disimpulkan bahwa self-compassion (welas asih pada diri sendiri) memiliki banyak manfaat. Disebutkan manfaat self-compassion (welas asih pada diri sendiri) diantaranya adalah:

  • Meningkatkan kebahagiaan
  • Meningkatkan optimisme
  • Meningkatkan motivasi
  • Meningkatkan sikap positif
  • Meningkatkan harga diri
  • Meningkatkan kebijaksanaan
  • Meningkatkan inisiatif pribadi
  • Meningkatkan keingintahuan dan eksplorasi
  • Meningkatkan rasa senang dan gembira
  • Meningkatkan kemampuan bersikap terbuka
  • Menumbuhkan ketahanan diri
  • Mengurangi masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, distress, dan depresi

KS Arsana
Managing Director & Executive Consultant of HumanDynamics

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *